Apa Peranan Terpenting Walisongo dalam Perkembangan Islam di Indonesia? Ini Jawabannya!

perkembangan-Islam-di-Indonesia
pixabay.com

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA – Berdasarkan survei yang terukur, saat ini agama Islam menjadi agama terbesar di Indonesia. Tak terbatas pada jumlah penduduk, namun juga dapat dicermati lewat bangunan, pusat perbelanjaan, dan juga aktivitas sehari-hari. Perkembangan Islam di Indonesia yang demikian pesat itu tentu tak ditempuh dengan cara-cara ajaib. Semua perlu proses yang melandasinya.

Khusus di Indonesia sendiri, terdapat simpang-siur mengenai keberadaan 9 wali yang akrab diingat dengan nama Walisongo. Pernah dengar Walisongo? Ada yang meyakini kalau Walisongo cuma mitos. Tapi pendapat mayoritas mengatakan bahwa mereka benar-benar ada. Sejarah tentu memerlukan bukti autentik, bukan hanya suara.

Para peneliti telah menemukan banyak bukti terkait keberadaan Walisongo. Mulai dari buku “Al-Mausuuah Li Ansaabi Al-Imam”, “Arsyul Muluk”, “Ilhafun Nadhoir”, “Syamsu Dzahirah”, “Khidmatul Asyirah”, “Tarikhul Aulia”, “Het Book van Bonang”, “Suluk Linglung”, “Koprak Farara”, “Walisana”, “Al-Fatawi”, dan yang paling terkenal tentu saja kitab “Kanzul Ulum” karya Ibnu Bathuthah.

Dokumen-dokumen langka itu langsung ditulis oleh anggota Walisongo dan beberapa orang yang jadi saksi keberadaan mereka. Apakah bukti-bukti itu belum cukup? Bahkan, buku karangan Sunan Bonang yang berjudul “Het Book van Bonang” itu justru ditemukan di negeri Belanda, tepatnya di Universitas Leiden. Tentu kalau bukan dokumen penting, tidak perlu dibawa ke sana, bukan?

Kalung Kucing Liontin Bahan Kulit Asli Premium

[toc]

Ini Dia Peranan Walisongo dalam Perkembangan Islam di Indonesia

Dalam perkembangan Islam di Indonesia, Walisongo menyebarkan agama lewat berbagai metode. Hal ini penting dilakukan, sebab, banyak di antara penduduk saat itu yang masih menganut agama Hindu, Budha, Anemisme, dan Dinamisme. Tentu kalau penyebarannya lewat proses asimilasi, hanya akan terjadi kekacauan. Untuk itulah proses akulturasi budaya jadi pilihan utama.

Sejarah mencatat, kesembilan wali itu bernama Sunan Maulana Malik Ibrahim/Gresik (di Gresik), Sunan Ampel (di Ngampel), Sunan Bonang (di Tuban), Sunan Drajat (di Drajat), Sunan Giri (di Bukit Giri), Sunan Muria (di Sungai Muria), Sunan Kudus (di Kudus), Sunan Kalijaga (di Kadilangu), dan Sunan Gunung Jati (di Cirebon).

Bagaimana metode dakwah yang Walisongo terapkan? Secara eksplisit, ada 7 metode dakwah yang paling terkenal, antara lain berikut.

  1. Lewat Perdagangan

perkembangan-Islam-di-Indonesia
pixabay.com

Ketika seorang pedagang dan pembeli bertemu, maka akan tercipta sebuah interaksi. Dari situlah ajaran Islam menyebar. Bisa melalui barang yang diperdagangkan, sikap, maupun intensitas pertemuan keduanya. Sunan Maulana Malik Ibrahim contohnya.

Beliau dikenal luas sebagai saudagar kaya pada masanya. Beliau merupakan salah satu dari 9 anggota yang dibentuk langsung oleh Sultan dari Turki: Muhammad I. Mulanya, beliau hanya berdagang bermacam kebutuhan pokok. Mulai dari sana, jumlah pembeli semakin banyak, sebab bukan sekadar berdagang, tetapi ada syiar di dalamnya.

Lewat kesantunan beliau, serta tinggi ilmu agamanya, sontak banyak orang berbondong-bondong memeluk agama Islam. Beliau mengajarkan banyak hal tentang cara menjalani hidup yang baik pada masyarakat yang saat itu masih didominasi oleh hierarki perkastaan.

  1. Lewat Pertanian

perkembangan-Islam-di-Indonesia
pixabay.com

Sejak dulu, masyarakat Indonesia memang sudah dikenal sebagai penduduk mayoritas sebagai petani. Banyak rempah-rempah telah dihasilkan dari Bumi Pertiwi ini. Walisongo pun turut andil dalam masalah perekonomian rakyat di bidang pertanian. Mereka mengajarkan cara-cara bertani terbaik dengan hasil melimpah.

Tidak melulu soal dalil? Yap! Mereka tidak sibuk memberi dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits secara langsung pada masyarakat. Namun, langsung terjun ke medan. Dari sanalah letak Islam sebagai agama yang sempurna. Ia tidak pernah memaksa, namun menunjukkan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata. Sebagaimana yang diterapkan oleh Walisongo.

  1. Lewat Pengobatan

perkembangan-Islam-di-Indonesia
pixabay.com

Pada zaman Walisongo, perkembangan Islam di Indonesia juga melewati jalur pengobatan. Banyak tersedia ramuan obat pada saat itu. Praktik-praktik klenik juga tengah menjamur. Untuk itulah, ketika Walisongo menjalankan perawatan terhadap pasien, syiar Islam juga ditampakkan.

Semua orang sakit memerlukan obat. Walisongo tahu betul bahwa Al-qur’an adalah obat paling mujarab yang ada di dunia ini. Ketika memberikan ramuan dan pelayanan, mereka pun tak menyia-nyiakan kesempatan agar bisa lebih dekat dengan masyarakat. Lewat jalur pengobatan telah terbukti membawa pengaruh Islam yang kuat pada masa itu.

  1. Menanamkan Falsafah

perkembangan-Islam-di-Indonesia
pixabay.com

Salah satu falsafah terkenal dan masih dipegang pedomannya hingga saat ini adalah Moh Limo. Pandangan hidup ini dibawa langsung oleh Sunan Ampel ketika menyebarkan Islam. Moh berarti tidak mau. Limo berarti lima. Ada 5 hal pantangan seseorang ketika menjalani kehidupan ini. Lewat salah satu falsafah ini, Islam mudah tersebar.

Adapun bunyi dari Moh Limo ini antara lain; moh main (tidak mau judi), moh ngombe (tidak mau miras; mabuk), moh maling (tidak mau mencuri), moh madat (tidak mau narkoba), dan moh madon (tidak mau main perempuan (non muhrim)).

Tidak hanya Sunan Ampel, sunan-sunan yang lain pun aktif menanamkan falsafah pada tiap syiar Islam. Dengan adanya falsafah yang kalimat-kalimatnya unik, tentu akan mudah diingat siapa pun. Walisongo tahu betul akan hal itu.

  1. Lewat Tembang dan Kesenian

perkembangan-Islam-di-Indonesia
pixabay.com

Tembang bermakna sama dengan lagu. Pada waktu itu, masyarakat Indonesia sejatinya sudah mengenal kesusastraan dan budaya. Banyak tembang, tarian, sastra, dan budaya-budaya lain yang masih melekat. Walisongo tahu betul, andai budaya itu dihilangkan begitu saja dan diganti cara-cara Islam, pasti yang terjadi hanyalah kericuhan.

Untuk itulah diperlukan cara-cara membaur dan baik. Ajaran Islam melebur lewat cara-cara yang disukai oleh masyarakat setempat. Salah satunya lewat tembang. Pernah dengar tembang Lir-ilir dan tembang Macapat? Keduanya dipopulerkan oleh Walisongo. Tak hanya dua tembang itu, juga terdapat pada lagu dolanan anak.

Kedekatan Walisongo pada masyarakat lewat kesenian, menjadikan Islam sebagai agama yang dinamis. Tidak kaku dan memaksa. Semua yang ditanamkan serba natural. Orang bebas mendalami Islam atau tidak. Tugas Walisongo hanyalah menyebarkan ilmu dengan cara-cara yang humanis. Sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

  1. Mendirikan Pondok Pesantren

perkembangan-Islam-di-Indonesia
pixabay.com

Berdirinya pondok pesantren demi pondok pesantren tentu baru bisa terjadi ketika Islam sudah mulai dikenal luas. Fungsi pesantren itu banyak sekali. Kalau seorang reporter perlu belajar ilmu jurnalistik di sekolah, seorang yang ingin mendalami Islam, tentu wajib menuntut ilmu keislaman pada ahlinya. Kebanyakan para ahli itu ada di pesantren.

Pondok pesantren pada masa penjajahan Belanda mengalami banyak ujian yang berat. Pihak kolonial Belanda takut kalau-kalau pengaruhnya di Indonesia memudar karena perjuangan para santri. Tapi kenyataannya memang saat itu mayoritas masyarakat Indonesia sudah jadi pemeluk agama Islam. Kekhawatiran semacam itu sangat wajar.

Salah satu ajaran dalam Islam tentu saja tidak ada tindas-menindas. Semua saling menyayangi. Saling menghormati. Tidak terbatas pada ras dan suku bangsa. Semua satu. Persatuan inilah yang paling ditakuti oleh kolonialis manapun pada waktu itu.

Adanya pondok pesantren yang dibangun oleh Walisongo, tentu menjadi oase di tengah-tengah gempuran nilai-nilai moral yang bersifat destruktif. Siapa pun boleh menuntut ilmu di sana, berkumpul, berdiskusi, dan juga aktif berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga landasan Islam semakin kuat dan penyebarannya pun lebih maksimal.

  1. Lewat Pelayaran demi Pelayaran

perkembangan-Islam-di-Indonesia
pixabay.com

Walisongo pada awalnya terpusat di Pulau Jawa saja. Namun dalam perkembangannya, mereka pun berlayar dari satu pulau ke pulau lain. Tentu saja tidak sendirian, melainkan bersama murid mereka. Mulai dari Sumatera, Kalimantan, bahkan hingga Maluku. Dampak perkembangan Islam di Indonesia pada saat itu pun terasa sekali.

Bahkan sejumlah sumber menyebutkan bahwa di tanah Papua bukan agama Kristen yang mula-mula datang, melainkan Islam. Tepatnya pada tahun 1214-an Masehi. Tak heran kalau di sana pun berkembang banyak kerajaan Islam, sebutlah Kerajaan Waigeo, Misool, dan lainnya. Itulah bukti bahwa Islam telah tersebar luas pada waktu itu.

Metode Penyebaran Agama Islam yang Mempengaruhi Perkembangan Islam di Indonesia

Dalam perkembangan Islam di Indonesia pada zaman Walisongo, ada dua metode umum yang dilakukan agar Islam bisa menyebar lebih cepat. Pertama, melalui penikahan. Kedua, lewat jalur politik yang dilakukan oleh para raja di Kesultanan Islam.

Ketika dua pasangan yang berbeda agama, seringkali akan ditemui salah satunya akan ikut dengan lainnya. Di masa Walisongo, pengaruh Islam sangat luas. Bisa dibilang, saat itu, Islam jadi agama yang memiliki popularitas tertinggi. Salah satunya dikarenakan banyak murid mereka yang menikah dengan penganut agama atau kepercayaan lain.

Maka dari itu, ketika agama suatu pasangan yang sudah berkeluarga sama, maka akan mudah ketika mereka mendidik anak-anak nantinya. Begitulah, terus berkelanjutan, hingga tercipta generasi demi generasi Islam muda di Indonesia. Jalur pernikahan dalam pengembangan Islam di Indonesia sangat penting keberadaannya.

Kedua, melalui politik. Hal ini sudah diterapkan langsung oleh beberapa sultan, seperti Raden Patah dan Sultan Trenggana di Kerajaan Demak. Semakin luas kerajaannya, semakin besar pula pengaruh kepercayaan yang dianut oleh sang raja. Sudah menjadi adat dan kebiasaan, ketika seorang raja menganut agama Hindu, warganya pun sama. Begitu pula yang terjadi di Kerajaan Islam.

Hingga saat ini, pengaruh Walisongo masih tertanam kuat di dasar sanubari tiap umat Islam di Indonesia. Mereka mengajarkan ilmu-ilmu keislaman dengan tangan terbuka dan tanpa pamrih. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika beliau menghadapi masyarakat jahiliyah pada masa awal-awal peradaban Islam.

Sebagai generasi yang masih hidup saat ini, sewajarnya kita tidak boleh melupakan jasa-jasa para ulama pendahulu, termasuk Walisongo. Mereka telah berjuang keras menanamkan ajaran Islam yang indah demi perkembangan Islam di Indonesia. Islam itu cinta damai dan sangat disukai oleh siapa pun. Sebagai pribadi berkebangsaan Indonesia, mari kita teruskan perjuangan mereka.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.