Pengertian Tokoh dan Penokohan Menurut Para Ahli

Pengertian Tokoh dan Penokohan Menurut Para Ahli

PENGERTIAN TOKOH – Mungkin sebagian besar orang tahu tentang tokoh atau penokohan, seperti tokoh Sangkuriang, Maharbarata, Joko Tingkir, dan seterusnya. Ya, itu adalah tokoh. Namun, apa definisi atau pengertian tokoh yang sebenarnya?

[toc]

Pengertian Tokoh dan Penokohan Menurut Para Ahli

Pertanyaan itulah yang pasti telah membawa Anda landing pada page ini. Tanpa basa-basi, berikut pengertian tokoh dan penokohan menurut para ahli.

pengertian tokoh
pixabay.com

Menurut Sudjiman

Menurut Sudjiman (1988), penokohan lebih cenderung membahas bagaimana jalan pikir si pengarang dalam menentukan dan memilih tokoh yang nantinya berperan dalam sebuah cerita. Setelah menentukan tokohnya, maka kemudian diberi siapa nama tokoh yang tepat.

Sudjiman (1988) menambahkan bahwa tokoh jika dilihat dari fungsinya, maka dapat dibedakan menjadi dua bagian: tokoh sentral dan tokoh bawahan. Seorang tokoh yang berperan sebagai pemimpin alur sebuah cerita disebut sebagai tokoh protagonis atau utama.

Menurut Aminudin

Aminudin (2002) juga menyatakan bahwa tokoh utama selalu hadir di setiap peristiwa yang terjadi di dalam sebuah cerita. Itu juga bisa ditemui di setiap halaman novel ataupun karya buku cerita lainnya. Dengan kata lain, tokoh utama akan mendominasi sebuah cerita.

Menurut Nurgiyantoro

Menurut Nurgiyantoro (2000), pengertian tokoh dapat dimaknai sebagai seseorang atau sekelompok orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif dimana para pembaca dapat melihat sebuah kecenderungan yang diekspresikan baik melalui ucapan maupun tindakan.

Nurgiyantoro (2000) juga menambahkan bahwa berdasarkan tingkat perannya, tokoh dapat dibagi menjadi dua: tokoh tambahan dan tokoh utama. Tokoh utama adalah tokoh yang paling diprioritaskan dalam sebuah cerita, seperti pada novel atau karya lainnya.

Sedangkan tokoh tambahan bisa disebut sebagai tokoh pembantu yang bertugas untuk membantu peran tokoh utama. Selain itu, tokoh tambahan hanya muncul pada suatu kejadian yang berkaitan dengan peran yang dilakukan oleh tokoh utama.

Menurut Luxemburg, Bal, dan Weststeijn

Istilah tokoh atau penokohan digunakan apabila membahas tentang sifat-sifat pribadi orang pelaku. Dengan kata lain, istilah pelaku dalam konteks ini mengarah pada sebuah hubungan dalam alur cerita atau peristiwa (Luxemburg, Bal, dan Weststeijn, 1984).

Hayati

Hayati (1990) juga mengungkapkan bahwa tokoh atau penokohan dalam cerita adalah sebuah langkah untuk memberi sifat pada seorang pelaku (tokoh) yang terdapat dalam sebuah cerita, baik secara lahir maupun batin.

Nurgiyantoro

Nurgiyantoro (1995) juga menafsirkan bahwa sebenarnya tokoh adalah seseorang atau sekelompok orang yang menjadi pelaku dalam sebuah karya fiksi. Dengan adanya tokoh, maka sebuah peristiwa bisa menjalin suatu cerita yang memiliki gambaran yang jelas.

Menurut Santosa, dkk

Menurut Santosa, dkk (2008), penokohan bisa dilakukan dengan cara membedakan peran satu dengan yang lain. Perbedaan pada peran tersebut diharapkan bisa diidentifikasi oleh para penonton. Hal ini bertujuan agar penonton mampu menangkap ‘rasa’ dari peran tersebut.

Menurut Dewojati

Menurut Dewojati (2010), unsur karakter yang terdapat dalam sebuah drama bisa disebut penokohan yang juga merupakan bahan yang paling aktif menggerakkan alur. Melalui penokohan, pengarang bisa mengungkapkan alasan yang logis terhadap tingkah laku tokoh.

Wahyuningtyas dan Santosa

Sedangkan menurut Wahyuningtyas dan Santosa (2011), tokoh cerita dalam sebuah karya naratif dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, seperti tokoh utama, tokoh tambahan, tokoh protagonis, dan tokoh antagonis.

Berdasarkan pengertian tokoh menurut para ahli di atas, maka bisa diambil kesimpulan bahwa tokoh atau penokohan adalah sebuah proses untuk memilih dan menunjuk siapa yang menjadi pemeran dalam sebuah cerita, baik pemeran utama maupun pemeran tambahan.

Selain itu, tokoh utama adalah tokoh yang mendominasi sebuah cerita dimana ia dibantu oleh seorang atau beberapa orang tokoh tambahan agar gambaran suatu cerita bisa menjadi lebih sempurna. Di samping itu, tokoh tambahan tidak akan pernah ada jika tidak ada tokoh utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.